Cerita mana yang ingin kamu lihat?

Istri Ayah
Acara makan malam menjadi lebih bersemangat sejak gadis muda yang dibawa Papa terus tersenyum sembari melihat cincin berlian di jari manisnya. Sesekali ia tersenyum manja ke arah Papa seolah ingin mengatakan sesuatu. Kak Ran berusaha melahap makanan yang ada di piringnya, sembari menahan amarah. Aku dan Abang iparku, Bian, hanya bisa saling memandang karena bingung harus berkata-kata.“Intinya, Nay adalah istri baru papa. Ran dan kamu, Gio, tidak perlu khawatir papa tua dengan siapa. Kalian cukup fokus dengan kehidupan kalian,” Papa bicara sembari memamerkan gadis kecil di sebelahnya.“Ran ngga setuju, Pah! Jelas di lebih muda dari Rania. Bahkan dia pasti lebih muda dari Gi--”“28, kak Ran. Saya 28.” Potong gadis itu sembari memamerkan KTPnya, “Gio tahun ini 23, kan? Saya 28.”“Dia jelas wanita murahan, tidak berpendi--”“S1, kak Ran.” Potongnya lagi, “kebetulan saya S1 PTN, beasiswa. Lulus tepat waktu, 4 tahun. Mau lihat ijasah saya?"“Anu …, Pah. Apa ngga sebaiknya perkenalannya di waktu yang lain?” Ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan. Wajah merah kak Ran harus dipadamkan terlebih dahulu.“Jadi dia … ibu mertua saya, Pah?” Bang Bian canggung bertanya.“Ngga perlu anggap mertua Bang Bian. Kan saya 2 tahun lebih muda dari Kak Ran, can 4 tahun lebih muda dari Bang Bian.”“Dasar Ani Ani siala--”“Naya!” Gadis itu memotong umpatan kak Ran untuk terakhir kalinya, “panggil saya Naya atau Nay. Bukan Ani.”Kak Ran yang sangat emosi membanting gelas dan meninggalkan meja makan. Bang Bian mengikuti dari belakang. Lalu aku terjebak dalam suasana canggung.“Salam kenal, ya, Gio.”SIALAN

Pukul 11.15
Aku rasa bangun terlalu siang sangat buruk untuk kesehatan pikiran, aku sedikit linglung. Sungguh keterlaluan linglung hingga bayangmu muncul di ujung ruang kamar tanpa bergeser sedikitpun meskipun aku bergerak. Aku rasa 4 bulan sudah cukup bagiku berpindah hati dan merelakan hubungan kita. Sialan, apa ku berhalusinasi?Mencuci wajah rupanya tidak menghilangkan sosokmu, kau malah duduk di ruang tv seolah menonton sesuatu, sedangkan disana tv sudah lama kuganti dengan aquarium kecil. Kita terlalu lama bersama hingga sulit bagiku melupakan kebiasaan kamu tiap datang ke rumah ini. Kamu yang terbiasa duduk menonton one piece kesukaanmu itu, lalu membangunkan diri ini dari pintu kamar. Bahkan bau masakan andalanku tercium. Seolah olah kamu memang disini."Ngga bisa kita coba lagi?"Kata kata itu terngiang setelah aku memutuskan untuk berhenti dari hubungan kita. Kau tau, 5 tahun adalah waktu yang cukup panjang antara kita. Dirimu wanita yang sempurna dari segala hal, aku yakin di dunia ini akan ada lelaki yang mencintaimu sebesar dunia. Dan lelaki itu bukan aku.Lantas kenapa kita harus berpisah? Ibuku tidak merestui kita, ibuku tidak merestui kita, ayahku, ayahmu, menyayangkan hubungan kita. Mari kita bergerak dan memulai hal baru. Aku pun harus berhenti dan memulai hal baru."Kalian baik, dia anak baik, kamu anak bertanggungjawab, tapi untuk apa, Nak? Tuhan mana yang ingin kalian sakiti?"

Lelaki di Tengah Malam
Jika kalian lelaki, apa kalian bukan manusia? Di tengah malam setelah hujan, angin dingin akan masuk melewati celah celah kecil dari bangunan yang kalian sebut rumah. Angin dingin itu akan menyentuh ujung kaki, membuat kalian menarik selimut yang jarang sekali kalian sentuh sebelumnya. Lantas, apakah di tengah malam tadi, setelah hujan, setelah tau bahwa kalian adalah seorang "anak" dan "lelaki", kalian bisa tidur tanpa menahan sesak di dada? Apakah kalian menahan amarah dan air mata yang Tuhan ciptakan untuk manusia? Kalian menahannya karena kalian "lelaki".Di usia saya yang sudah seperempat abad ini, saya merasa menjadi seonggok kayu mati akan lebih dihargai dibandingkan menjadi "manusia", "anak", dan "lelaki". Entah perjanjian dengan Tuhan yang mana yang saya sepakati hingga saya menyakinkan Tuhan bahwa saya sanggup menjalani hidup di dunia fana ini. Seharusnya saya mati 2 hari setelah lahir.Tidak banyak hal yang diucapkan dunia untuk mengapresiasi kehadiran saya. Mungkin karena kakak saya lelaki kuat tulang punggung keluarga? Atau karena adik perempuan saya yang sukses berbisnis di usia muda tanpa harus kuliah? Sehingga saya, lelaki, anak tengah, usia hampir matang sempurna ini, tampak seperti angin dingin yang harus diusir keberadaannya. Sial, ini malam yang dingin, dan isi kepala menjadi penuh dengan pikiran negatif.Mereka bilang tidak menaruh harapan besar pada saya dan hanya meminta saya kuliah seperti kakak lelaki yang sukses S2 itu. Katanya mereka tidak ingin saya berkecil hati karena adik perempuan saya lebih dulu memiliki pekerjaan tetap dengan bisnisnya. Lantas apa tadi? Tidak ada ekspektasi apapun atas saya dan saya hanya perlu tinggal di rumah dan menjaga orang tua? Menjadi satu satunya yang merawat rumah, membantu ayah bekerja, membantu ibu dengan pekerjaannya, menjaga toko di depan rumah? Menjadi terapis-hati baja yang setiap malam mendengar ibu dan ayah bertengkar prihal ekonomi?Sial, saya bahkan tidak tau kenapa lelaki tak diizinkan dan dikatakan lemah hanya karena menangis. Air mata itu bukankan diciptakan Tuhan agar digunakan? Sialan, saya merasa seperti tidak diinginkan. Sialan. Ini malam yang dingin, dan saya harus bangun pagi untuk mengantar ibu kerja, lalu menjaga rumah keong yang tidak memiliki apapun di memori saya. Sialan, rumah siapa ini?

Mesin Cuci
Di usia yang hampir 32 tahun ini, bahkan untuk membeli sebuah mesin cuci saja, saya tak mampu. Hampir 10 tahun saya habiskan banting tulang demi keluarga setelah ayah meninggal duni. Tapi di usia ini, bahkan sebuah mesin cuci tetap tidak mampu saya beli.Kapan hal hal kecil seperti ini sulit saya beli? Bekerja 10 tahun tidak mungkin tidak menghasilkan apapun, hingga 1 unit mesin cuci tak kunjung terbeli, menyisakan mesin cuci 2 tabung tua yang sudah hampir 15 tahun peninggalan ayah.Sialan, hanya sebuah mesin cuci saja aku tak mampu.Uang itu hampir siap untuk mengganti mesin cuci tua itu, mesin cuci baru dengan 1 tabung yang lebih muda, lebih awet, lebih bagus, minimalis, Watt kecil, tapi gagal, adik saya harus kuliah agar kehidupannya baik seperti saya, biaya kuliahnya tinggi karena dia bukan beasiswa. Tidak apa, karena saya lelaki, seorang abang, dan tulang punggung keluarga. Kali kedua gagal, ibu sakit, cukup parah, tidak ada asuransi kesehatan, biaya seharga 1 unit mesin cuci baru. Kesehatan ibu lebih penting ketimbang mesin cuci baru.Mungkin saat itu usia saya 28 tahun dan hampir membeli mesin cuci 1 tabung keluaran lama, tapi tidak bisa, belum saatnya. Adik saya menikah, butuh biaya, uang untuk membeli mesin cuci 1 tabung dialokasikan pada acara resepsi.Segala hal adalah untuk keluarga, lantas kapan waktuku?Sekarang saya sudah terlalu lelah mencari uang, sudah mendapat tekanan menikah, namun adik saya harus menjalani ceaser anak ke 3 nya. Suaminya seperti orang mati, memberikan jaminan kesehatan saja tidak mampu, dan lagi lagi, 1 unit mesin cuci 1 tabung yang ingin saya beli gagal.Padahal hanya sebuah mesin cuci

Mencintaimu Sederhana
Aku mencoba mencintaimu secara sederhana, tak ingin terlihat mewah atau gemerlap, hanya sederhana, seperti bagaimana angin laut membelai tubuhmu pelan. Sebagaimana deburan ombak kecil yang menggelitik ujung jemari kakimu. Sebagaimana aku membawakan makanan dan minuman diteriknya matahari, bukannya membawa bunga yang layu di siang hari.Jadi bagaimana kabarmu? Aku rindu wangi sampo yang terakhir kali kau gunakan. Kau masih tidak mau menyebutkan mereknya. Pesan-pesan yang saling menautkan kita semakin sedikit. Apa kuliahmu sulit? Aku ingin membantu mendengarkan celoteh mengenai segala hal tentang harimu.Aku mau bobok sayang. Ayank kangen aku?Bagaimana aku bisa bertingkah keren saat kau merengek dan bertanya tentang perasaanku? Jika sayap muncul di punggungku, aku pastikan detik ini pun aku kan muncul dan memberimu banyak bukti. Rasa rinduku tak terukur kata apapun, tak tertulis dengan karakter apapun. Rasa rinduku sangat dalam, luas, detail, dan menyeluruh.Kok kamu ngga cemburu? Kamu ngga sayang aku?Apa kau ingin aku mencongkel setiap mata yang melihatmu dengan pandangan tertarik saat kau kenakan pakaian menggemaskan? Apa kau ingin kupotong tiap kepala yang menoleh saat kau kenakan pakaian sedikit minim? Apa kau ingin kuhujam jantung mereka yang tersenyum saat kau ajak bicara? Aku ingin mencintaimu sederhana. Selayaknya matahari menyinari dunia secara pasti setiap tahunnya.Aku ingin mencintaimu secara sederhana, mengirimi setiap hal terjadi padaku, melibatkan dirimu di hari hari penting dalam hidupku, membawakan pesananmu ke atas meja, menyiapkan tissue saat kau makan, membukakan kaleng beer agar kau tak terluka, menyeka air matamu saat kau bersedih, dan memeluk tubuhmu saat kau ingin ditenangkan.Kita ke pantai bulan depan, ya? Nanti aku jemput. Kamu harus healing dari kuliah, kan? Mimpi indah, sayangku manisku. Aku sayang kamu, my everything

Apa tadi? Petir?
Hindari kontak mata, bukan muhrim. Ingat Cael, kau mudah jatuh cintaJadi kenapa kami terjebak di tengah hujan lebat, berteduh di halte bus, dan saling menjaga jarak? Aku, laki-laki berusia 26 tahun, baru saja menghadiri reuni akbar SMA dan secara tidak sengaja bertemuーsebenernya kami bertemu di reuni ituーdengan mantan pacarku, Luna. Ini canggung. Setahuku dia pergi dengan 'calon' suaminya. Tapi bagaimana bisa dia terjebak di halte ini? Apa laki-lakinya bakal jemput dia?Ujung roknya basah, bajunya tipis, seharusnya dia pakai jaket. Haruskah aku pinjamkan jaketku? Hal gila apa yang terpikirkan ini? Kamu hanya mantan pacar terlebih dia sudah punya calon. Sialan, tapi dia keliatan kedinginan karena terus mengusap lengannya. Sialan, dia masih secantik dulu."Lun? Sorry, tapi ... anu ... Keknya mending lu pake jaket gua, baju lu, kan tipis. Pasti dingin." Dia menatapku seolah bingung, "Ntar balikin aja pas pacar lu ngejemput.""Makasih, El." Dia tersenyum manis. Tahi lalat di ujung bibirnya terlihat imut, sedikit lebih menonjol sejak terakhir kami bertemu. Apa ini? Serangan masa lalu?Aku mencoba memberi jarak, mungkin 2 meter cukup jauh. Akan menyusahkan jika orang-orang berpikir aku sedang mencoba membuat gebrakan dalam hal merebut kembali mantan pacarku. Lagipula aku tidak cukup pantas untuk bersanding dengan wanita yang sukses lulus tetap waktu dan membuat merek busananya sendiri. Aku masih menemukan diri sebagai pengagum."El?" Suara lembut Luna terdengar merdu di telinga, seolah membisikkan kata cinta yang entah halusinasi dari mana. Tapi dia mendekatiku dan berkata, "kamu ngga bawa jas hujan?""Ahahahaha ... Iya ngga bawa, makanya berteduh. Kan gua kaga ada motor ... ahaha." Canggung sekali jawabanku."Tapi kamu kan bawa helm, trus itu motor siapa?" Luna menunjuk motor merah di ujung halte.Ya, benar. Aku membawa helm tentu saja motor merah itu motorku. Tuhan, sambar aku dengan petirmu."El, kamu sayang sama aku?"Apa tadi? Luna tadi bilang apa? Halusinasi macam apa ini?"Ha?! Gimana, Na?!"Luna tertawa kecil, lalu menepuk pundakku pelan, entah apa yang ditertawakan. "El, grab aku udah dateng," dia menunjukkan mobil putih yang berhenti di depan kami, "Aku balik duluan ya.""O ... Oh, ya ya ya. Oke, oke. Oh, Na, jaket?""Nanti aku kirim ke rumah kamu, ya. Masih sama kan rumah kamu? Oh, aku cuma mau bilang, kamu masih punya kesempatan. Aku belum punya calon. Duluan, ya?"Tuhan sambar aku 2 kali, tapi jangan motorku, itu cicilannya belum kelar.









